• Sekilas info

    Photobucket

    Sesungguhnya, peran dan kedudukan wanita dalam Islam sangat istimewa. Islam memberikan tempat bagi kaum wanita untuk tetap berada di rumahnya. Untuk mendapatkan surga-Nya kelak, para istri cukup berjuang di rumah tangganya dengan ikhlas. Tetesan keringat dari istri yang kerja di dapur dinilai sama dengan darah mujahid di medan perang. Sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW ,

    ''Setiap jerih payah istri di rumah sama nilainya dengan jerih payah suami di medan jihad.'' (HR Bukhari dan Muslim).

    Health Blogs - BlogCatalog Blog Directory

  • About me

    Ibu dari dua orang anak yang lucu dan gemesin, Muhammad Ichsan Ahzami dan Aisyah Shafiya Dwi Lestari


    Profil Facebook Sri Lestari

    > free counters

  • Laman

  • Arsip

Waspadai 2 kondisi bahaya DBD

PEREMBESAN plasma dan penurunan trombosit pada demam berdarah dengue (DBD) dapat berujung pada kematian. Penanganan cepat dan tepat pada enam hari pertama demam menjadi kunci utama kesembuhan. Memasuki pertengahan Maret ini Indonesia mengalami musim pancaroba.

Seolah sudah menjadi ritual, DBD pun lagi-lagi merebak di tengah kondisi cuaca yang tak menentu dengan suhu cenderung panas ini.

Inilah yang mengusik hati Artika, 35, saat ini. Setiap kali “musim” DBD datang, pikirannya langsung melayang pada kejadian pilu setahun silam. Dinda, putri sulungnya yang baru berumur sembilan tahun, terenggut nyawanya akibat penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk aedes aegypti itu.

Masih terekam dalam ingatan Artika saat gadis kecilnya itu mulai mengalami demam tinggi dua hari berturut-turut. “Antara hari ketiga dan keempat panasnya sempat turun. Tidak ada bintik merah di kulit Dinda, jadi kami pikir cuma demam biasa, bukan DBD,” ungkapnya. Tak tega melihat kondisi Dinda yang kian lemah, Artika pun membawa sang putri ke rumah sakit terdekat. Malangnya, perjalanan DBD Dinda sudah parah, ditandai dengan darah yang keluar dari telinga dan hidungnya. Keping darah (trombosit) pun turun drastis ke angka di bawah 100.000/mm3. “Dinda sempat menerima transfusi darah, tapi sepertinya sudah tak berguna lagi. Takdir sudah menjemputnya,” tutur Artika mengenang saat-saat terakhir bersama sang buah hati.

Kecemasan menghadapi ancaman DBD juga pernah dirasakan Umi, 32. Warga Ciledug, Tangerang, ini harus “berperang” melawan DBD yang menjangkiti anak sulungnya, Farhan, 12. “Kejadiannya dua pekan lalu. Saya juga enggak tahu dia digigit nyamuk di mana? Soalnya di kompleks rumah kami tidak ada yang kena DBD,” tutur Umi yang meyakini DBD anaknya tidak bersumber dari kondisi di lingkungan rumah. “Farhan itu kalau main jauh, mungkin dia kena saat di sekolah atau lapangan tempat dia bermain,” imbuhnya.

Sama halnya dengan Artika, absennya bintik merah di kulit Farhan sempat membuat Umi “tertipu” mengira Farhan terkena demam biasa. Beruntung, walaupun sempat mengalami perdarahan di hidung (mimisan), siswa kelas 6 SD itu terselamatkan setelah dirawat 4 hari di rumah sakit. “Sebelumnya saya sempat membawa Farhan ke Puskesmas waktu hari kedua demam.

Saya mulai curiga dia kena DBD setelah dikasih tahu Hikmah, saudara saya yang tiga anggota keluarganya pernah kena DBD dalam waktu yang sama,” papar Umi yang mengaku lebih rajin menyemprotkan obat nyamuk semprot 3-4 kali seminggu setelah kejadian itu.

Menurut spesialis penyakit dalam dari Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM Jakarta, dr Khie Chen SpPD, nyamuk aedes aegypti dapat menyebabkan DBD dalam sekali gigit, dan gigitan “si belang” ini dapat bersifat multiple bite. Dengan kata lain, dalam waktu hampir bersamaan anggota keluarga dalam satu rumah bisa terjangkit, bahkan mungkin satu kompleks. Khie Chen mengingatkan, DBD sebagai penyakit mematikan patut diwaspadai dan ditangani dengan cepat dan tepat. DBD yang luput atau terlambat ditangani dapat mengarah pada dua kondisi paling berbahaya dari demam berdarah.

Pertama hilangnya cairan yang ditandai dengan perembesan plasma (cairan dalam darah) ke luar pembuluh darah sehingga terjadi shock atau renjatan. Ibarat batu bata yang tertata di tanah terdapat pula sela atau celah di antaranya. Nah, cairan dalam pembuluh darah ini bisa keluar dengan sendirinya di antara celah tersebut, lantas merembes dan mengakibatkan turunnya tekanan darah. “Kondisi ini berbahaya dan harus diwaspadai karena terjadinya justru di hari ke 4, 5, atau 6 demam,” tekan Khie Chen.

Kondisi “gawat” kedua adalah trombosit yang turun drastis sehingga memicu perdarahan di gusi, kulit, mata, telinga dan hidung, atau di organ dalam semisal usus, lambung, dan otak.

Menurut Khie Chen, perdarahan di organ dalam jauh lebih berbahaya, tapi kasusnya lebih jarang. “Trombosit akan turun ke titik terendah pada hari keenam demam, dan darah mengental. Karena itu, perawatan DBD sampai hari keenam harus baik. Kalau tidak bisa atasi, biasanya kondisi akan memburuk,” ungkap pria ramah itu seraya mengingatkan penderita DBD untuk segera dirawat jika jumlah trombositnya kurang dari 100.000/mm3.

Perlu diketahui juga bahwa selain trombosit, gejala DBD bisa disertai leukopeni, yaitu penurunan sel darah putih (leukosit). Itulah sebabnya, pemeriksaan darah harus dilakukan dengan lengkap agar kondisi dan perjalanan penyakit terdeteksi dengan baik dan akurat.(sindo//jri) sumber: lifestyle.okezone.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: